Isnin, 14 Mei 2012

Siri 1: Cintanya Kepada Umat Akhir Ini


Dalam sebuah riwayat hadith... dikisahkan.....ketika itu Nabi Muhammad SAW sdg duduk bersama para sahabat diantaranya Saidina Umar, Osman, Ali, Abu Bakar dan lainnya... lalu kemudian baginda bertanya pada para sahabat..

"wahai sahabatku, tahukah kalian, siapakah hamba Allah yg mulia di sisi Nya..." para sahabat terdiam.. lalu kemudian salah seorang sahabat mengatakan..."para malaikat ya Rasulullah.. merekalah yg mulia.."

Baginda berkata, "ya para malaikat itu mulia... kerna mereka dekat dgn Allah... mereka sentiasa bertasbih dan beribadah kepada Allah...sudah tentu malaikat mulia, tapi... bukan itu yg ku maksudkan.."

lalu kemudian para sahabat kembali terdiam... tiba-tiba seorang sahabat pula berkata... '" tentulah para Nabi itu mulia ya Rasulullah..."

Nabi Muhammad tersenyum dan berkata, "ya, para Nabi itu mulia... mereka adalah utusan dari Allah.. sudah tentu mereka mulia... tapi ada lagi yang lainnya.." para sahabat terdiam lagi.... lalu bertanya, "siapa lagi yg mulia???" lalu seorang lagi sahabat bertanya, "apakah kami sahabatmu ya Rasulullah yg mulia itu..?"

Baginda memandang wajah sahabat satu persatu dgn penuh kasih sayang... baginda tersenyum melihat mereka.. lalu berkata, "tentulah kalian mulia.. kalian dekat denganku malah kalian membantu perjuanganku, bagaimana mungkin kalian tidak mulia.. tentulah kalian mulia... tapi.. ada lagi lain yang mulia..."

Para sahabat terdiam semuanya... mereka tak mampu berkata apa-apa lagi.. lalu.. bayangkan, tiba-tiba Baginda Nabi Muhammad SAW merundukkan wajahnya, bayangkan tiba-tiba Nabi Muhammad SAW menangis dihadapan para sahabatnya..

Penuh sayu para sahabat pun tertanya, "kenapa kau menangis ya Rasulullah.." lalu bayangkan Baginda mengangkat wajahnya kelihatan air mata yang berlinangan membasahi pipi dan janggut Baginda dan berkata... "wahai saudaraku sahabatku, tahukah kalian siapa yg mulia itu?..mereka adalah manusia yang akan lahir lama selepas wafatku nanti..." "mereka terlalu mencintai Allah dan tahukah kalian, mereka tak pernah memandangku.. mereka tak pernah melihat wajahku, mereka hidup tidak dekat denganku sebagaimana kalian. Tetapi mereka begitu rindu kepadaku..."

Dengan penuh kasih syg Baginda berkata : "dan.. saksikanlah wahai sahabtku semua... AKU PUN RINDU KEPADA MEREKA...." "dan mereka, mereka yang mulia itu.......merekalah........ UMATKU"

Bayangkan pada saat itu Baginda menitiskan air matanya semua sahabat menangis.

Saudara-saudari sekalian, secara ikhlasnya renungkanlah bersama-sama:
Siapakah yang dirindui Baginda?
Siapakah yang selalu di doakan oleh Baginda setiap waktu??

Tolong tanya pada diri kita semua, pejamkan mata dan tanya pada hati masing-masing ..
Mulai saat ini, waktu ini.. marilah bersama-sama kita hadirkan rasa CINTA kepada NABI MUHAMMAD SAW... semoga kelak di hari akhirat kita akan mendapat SYAFAAT Baginda....

Khamis, 10 Februari 2011

Siri 5: Mulianya Pekerti Mu Ya Rasulullah

Rasulullah bergaul dengan semua orang. Beliau bergaul dengan berbagai strata sosial, baik kalangan bawah seperti budak, pengemis, anak-anak; maupun kalangan atas seperti pengusaha dan para tokoh.

Jika bergaul Rasulullah dapat menyesuaikan dengan lawan bicaranya dan memperhatikan bagaimana karateristik lawan bicaranya. Beliau juga bergurau dengan anak kecil, bermain-main dengan mereka, bersenda gurau dengan orang tua. Akan tetapi beliau tidak berkata kecuali yang benar saja.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi bahwa, suatu hari ada seorang perempuan datang kepada beliau lalu berkata, “Ya Rasulullah, naikkan saya ke atas unta”.

“Aku akan naikkan engkau ke atas anak unta.” kata Rasulullah.“Ia tidak mampu.” kata perempuan itu.

“Tidak, aku akan naikkan engkau ke atas anak unta.

“Ia tidak mampu”.

Rasulullah menjawab, “Aku tidak bilang anak unta itu masih kecil, yang jelas dia adalah anak unta. Tidak mungkin seekor anak unta lahir dari ibu selain unta.” Para sahabat yang ada disitu tersenyum dan ia pun mengerti gurau Rasulullah.

Datang seorang perempuan lain, dia memberitahu Rasulullah, “Ya Rasulullah, suamiku jatuh sakit. Dia memanggilmu”.

“Semoga suamimu yang dalam matanya putih.” kata Rasulullah.

Perempuan itu kembali ke rumahnya. Dan dia pun membuka mata suaminya. Suaminya bertanya dengan keheranan, “kenapa kamu ini?”

“Rasulullah memberitahu bahwa dalam matamu putih.” kata istrinya menerangkan.

“Bukankah semua mata ada warna putih?” kata suaminya.

Diriwayatkan oleh Tirmidzi, bahwa seorang perempuan tua berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar aku dimasukkan ke dalam surga.”

“Wahai Ummi Fulan, surga tidak dimasuki oleh orang tua.”

Perempuan itu lalu menangis.

Rasulullah menjelaskan, “tidakkah kamu membaca firman Allah ini, ‘Serta kami telah menciptakan istri-istri mereka dengan ciptaan istimewa, serta kami jadikan mereka senantiasa perawan (yang tidak pernah disentuh), yang tetap mencintai jodohnya, serta yang sebaya umurnya’ (QS. Al Waqi’ah: 35-37).

Para sahabat Rasulullah suka tertawa tapi iman di dalam hati mereka bagai gunung yang teguh. Na’im adalah seorang sahabat yang paling suka bergurau dan tertawa. Mendengar kata-kata dan melihat gelagatnya, Rasulullah turut tersenyum.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Anas, bahwa seorang sahabat bernama Zahir, dia agak lemah daya pikirannya. Namun Rasulullah mencintainya. Zahir ini sering menyendiri menghabiskan hari-harinya di gurun pasir. Sehingga, kata Rasulullah, “Zahir ini adalah lelaki padang pasir, dan kita semua tinggal di kotanya”.

Suatu hari ketika Rasulullah sedang ke pasar, dia melihat Zahir sedang berdiri melihat barang-barang dagangan. Tiba-tiba Rasulullah memeluk Zahir dari belakang dengan erat. “Heii……siapa ini? lepaskan aku!” Zahir memberontak dan menoleh ke belakang, ternyata yang memeluknya Rasulullah.

Zahir pun segera menyandarkan tubuhnya dan lebih mengeratkan pelukan Rasulullah. Rasulullah berkata, “Wahai umat manusia, siapa yang mau membeli budak ini?” Zahir menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini tidak bernilai di pandangan mereka” “Tapi di pandangan Allah, engkau sungguh bernilai Zahir.” kata Rasulullah.

Mau dibeli Allah atau dibeli manusia?” Zahir pun makin mengeratkan tubuhnya dan merasa damai di pelukan Rasulullah.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah juga pernah bersabda kepada ‘Asiyah, “Aku tahu saat kamu senang kepadaku dan saat kamu marah kepadaku.” Aisyah bertanya, “Dari mana engkau mengetahuinya?” Beliau menjawab, ” Kalau engkau sedang senang kepadaku, engkau akan mengatakan dalam sumpahmu “Tidak demi Tuhan Muhammad.”

Akan tetapi jika engkau sedang marah, engkau akan bersumpah, “Tidak demi Tuhan Ibrahim!”. Aisyah pun menjawab, “Benar, tapi demi Allah, wahai Rasulullah, aku tidak akan meninggalkan, kecuali namamu saja.”

Maha Suci Allah… Ketika itu, Rasulullah adalah seorang rasul, pemimpin umat dan pemimpin negara, tetapi cara bergaul atau bersosialnya tidak berubah hanya karena kedudukan.

Beliau bergaul sebagaimana sifat orang ‘jelata’ ketika berbicara dengan orang ‘jelata’, sebagaimana seorang ayah ketika bergaul dengan anak, sebagaimana seorang anak ketika bergaul dengan orang tua, sebagaimana seorang panglima ketika berjihad di jalan Allah, dan sebagainya.

Dengan kata lain, dalam hal aplikasi pergaulan ini beliau adalah seorang ‘Maha Profesor Psikologi’ dan ‘Maha Profesor Sosiologi’ secara bersamaan.

Siri 4: Mulianya pekerti Mu Ya Rasulullah

Disebutkan satu kisah pada suatu hari isteri-isteri baginda berkumpul dihadapan baginda lalu bertanya “Siapakah diantara mereka (isteri-isteri) baginda yang paling disayangi”.

Rasulullah SAW hanya tersenyum lalu berkata, “Saya akan beritahu kamu kemudian.”

Selepas daripada pertemuan itu, Rasulullah telah memberikan setiap seorang daripada isteri-isteri baginda sebentuk cincin. Baginda berpesan supaya tidak memberitahu kepada isteri-isteri yang lain. Lalu suatu hari mereka berkumpul lagi dan bertanyakan soalan yang sama.

Rasulullah  SAW lalu menjawab “Orang yang paling aku sayangi ialah yang kuberikan cincin kepadanya”. Isteri-isteri baginda tersenyum puas kerana menyangka hanya diri mereka sahaja yang mendapat cincin dan merasakan bahawa diri mereka tidak terasing.

Tidak ketinggalan amalan-amalan lain yang boleh dilakukan untuk  mendapat suasana romantik ini Rasulullah SAW ada bersabda yang bermaksud: “Apabila pasangan suami isteri berpegangan tangan, dosa-dosa akan keluar melalui celah-celah jari mereka”.

Rasulullah SAW selalu berpegangan tangan dengan Aisyah ketika di dalam rumah. Baginda acap kali memotong kuku isterinya, mandi junub bersama, dan mengajak salah seorang dari isteri baginda pergi musafir (mengikut undian) untuk menambahkan lagi kasih sayang di antara mereka.